Dari Hobi, Novita CS Sukses Dengan Dessert Khas Italia

Monday, September 15th, 2014 - Kisah Sukses Pengusaha
Advertisement

Novita Anggraeni Purwanto, namanya kian meroket berkat bisnis panna cotta yang ia geluti. Margin keuntungan yang didapat dari bisnis ini mencapai 60%.

Istilah panna cotta memang belum familiar di telinga masyarakat Indonesia. Ketika melihat bentuknya, banyak masyarakat yang mengira makanan pencuci mulut ini sebagai agar-agar atau pudding. Berkat rasa enak dan manis, dessert asal Italia ini diburu oleh pecinta kuliner yang tinggal di kota-kota besar.

kreme

Salah satu pelaku usaha yang merintis bisnis serupa adalah Novita Anggraeni Purwanto. Bersama tiga orang sahabatnya, yaitu Lia, Ruth, dan Levina, dara asal Surabaya ini memulai bisnis yang diberi nama Kreme Pattisserie ini sejak Juni 2014.

Novita mengaku alasan mereka terjun ke bisnis ini lantaran besarnya peluang bisnis yang bisa diraih. Setelah melakukan beberapa percobaan di dapur, mereka menjatuhkan pilihan pada produk panna cotta.

“Selain rasanya enak, panna cotta memiliki tektur lembut dan tampilan yang cantik. Kami berpikir konsumen Indonesia akan tertarik dengan panna cotta karena banyak yang menyukai makanan manis,” ujar perempuan asal Surabaya ini.

Setelah panna cotta tersebut jadi, mereka memberikan sampel dessert asal Italia tersebut ke keluarga dan teman-teman dekat. Tak disangka, respons yang didapat sangat bagus.

Sejak itu, mereka pun menggodok nama merek, konsep, dan kemasan secara matang hingga akhirnya muncul nama Kreme Pattisserie.

Ada 6 varian panna cotta yang ditawarkan oleh Kreme Pattisserie, yaitu original (vanilla), stroberi, mangga, kopi, milo, dan green tea.

Setiap varian dilengkapi dengan aneka saus yang disesuaikan dengan masing-masing rasa. Selain itu, mereka juga menambahkan potongan buah, kacang almond, bubuk green tea dan biskuit di atas panna cotta.

Novita mengaku, dia dan ketiga rekannya memang menyasar konsumen kelas menengah ke atas sejak awal merintis bisnis ini. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan.

“Biaya pembuatan makanan ini memang tak murah. Meski terlihat seperti pudding, bahan baku utama harus berkualitas. Bahkan, kami masih memakai produk impor untuk menghasilkan panna cotta yang enak dan lembut,” ujar lulusan jurusan ekonomi Universitas Kristen Petra ini.

Lantaran biaya bahan baku mahal, harga jual panna cotta Kreme Patisserie pun terbilang tinggi. Senada dengan Nanetta, Novita menjual paket yang berisi 6 cup panna cotta aneka rasa. Harga per paket dibanderol Rp150.000. Margin keuntungan yang didapat dari bisnis ini mencapai 60%.

Novita menuturkan untuk membuat panna cotta pelaku usaha harus menyiapkan susu cair, krim kocok (whipped cream), gelatine, dan vanili bubuk. Setelah ketiga bahan tersebut dicampur, adonan panna cotta dicetak dalam mangkuk plastik.

Lebih lanjut, dia memasukkan panna cotta tersebut ke dalam lemari es. “Berbeda dengan pudding, panna cotta tak boleh didiamkan lama di suhu ruang. Jika tak dingin, teksturnya akan berubah jadi cair. Waktu penyimpanan panna cotta maksimal 5 hari karena kami tak menggunakan bahan pengawet,” imbuhnya.

Lantaran tak berumur panjang, Novita memberlakukan sistem pemesanan (pre-order). Proses pre-order ini dilakukan setiap 1 minggu sekali.

Sistem ini dilakukan untuk meminimalisasi cup panna cotta yang tak laku. Pengumuman pre-order dilakukan Novita melalui akun instagram kremepattisserie.

Dari hanya membuat 12 cup panna cotta, kini mereka sukses memproduksi 120 cup panna cotta setiap pekan. Sayangnya, dessert nan lezat ini baru bisa dirasakan oleh konsumen yang tinggal di Surabaya.

“Permintaan dari luar kota sangat banyak. Namun, kami belum  bisa penuhi karena hambatan di pengiriman barang,” tutur Novita

Semoga kisah Novita dapat menginspirasi Anda dalam berbisnis. Bisnis yang sukses dan besar berawal dari bisnis kecil. Untuk itu ayo kita berbisnis. Selamat mencoba dan semoga sukses 🙂

Sumber : entrepreneur.bisnis.com

Advertisement
Dari Hobi, Novita CS Sukses Dengan Dessert Khas Italia | khusnul | 4.5