Perhitungan Modal dan Keuntungan Bisnis Kopitiam

Tuesday, September 9th, 2014 - Analisa Usaha Makanan
Advertisement

Kedai kopi saat ini memang menjamur di masyarakat. Tempat nongkrong sekaligus ngopi ini membuat kedai kopi yang mengungsung konsep kopitiam makin berkibar.

Kedai kopi yang mengusung konsep kopitiam semakin menjamur. Sarana nongkrong dengan secangkir kopi nan murah meriah menjadi daya tarik pembeli yang ingin bersantai. Tak heran, juragan kopitiam bisa balik modal dengan cepat. Tertarik?

kopitiam

Kopitiam merupakan kedai kopi tradisional gabungan kata “kopi” dari bahasa melayu dan “tiam” dari berbahasa hokkian yang berarti kedai. Sejak dua tahun terakhir, kedai kopi jenis ini makin diminati. Suasana kedai yang santai, akrab, dan menu murah meriah menjadi sarana nongkrong yang pas sekali bagi kaum muda dan orang-orang kantoran.

Salah satu alasan membuka bisnis ini adalah margin keuntungan yang besar, antara 25% hingga 30%. Bahkan, selain punya usaha kopitiam, Ashari, pemilik Singaporean Coffee Stall di Batam, yang sudah memiliki tujuh kopitiam di Batam mengaku bisa meraup keuntungan dari jasa lain, yakni menyiapkan kopitiam di beberapa kota. “Saya hanya bertugas menyiapkan kedai milik investor hingga siap untuk melayani pengunjung,” ujarnya.

Dalam sehari, satu kedai kopi Ashari bisa menghimpun omzet hingga Rp 2 juta. Artinya, sebulan, satu kopitiam bisa mengantongi Rp 60 juta. Sebagai gambaran, satu kilogram kopi seharga Rp 60.000 bisa menjadi sekitar 60 cangkir kopi item seharga Rp 10.000 per cangkir. Itu belum termasuk pendapatan dari minuman dan menu makanan yang lain. Menggiurkan?

Area Manager Kopitiam Oey Tebet Irmansyah bilang, dalam sehari, setidaknya 130 tamu datang ke kedai kopi milik pakar kuliner Bondan Winarno ini. Rata-rata dalam sebulan, Kopitiam Oey bisa memperoleh penghasilan sebesar Rp 100 juta. Tahun ini, pihaknya menargetkan kenaikan omzet sebesar 20%.

“Kopitiam masih menjadi bisnis yang menjanjikan. Terbukti, semakin banyak cabang-cabang baru Kopitiam Oey dan kopitiam-kopitiam lain,” ujarnya.

Tren kopitiam juga melanda kota gudeg. Kopitiam 51 yang baru dibuka pertengahan tahun 2010 lalu, saban hari dikunjungi 90 pembeli hingga 100 pembeli. “Saat kami buka, belum ada kopitiam di Yogyakarta. Sekarang, jumlahnya mulai banyak,” kata General Manager Kopitiam 51, Dicky Hermanto.

Dicky memaklumi persaingan bisnis kedai kopi yang kian ketat. Tapi, Kopitiam 51 memiliki cara tersendiri menarik pengunjung. Tak seperti kopitiam pada umumnya yang mengusung kopi sebagai menu utama, Kopitiam 51 justru mengangkat menu makanan, seperti bandeng tanpa duri sebagai menu utama. “Kami menggunakan nama kopitiam supaya orang tak ragu datang. Orang Yogyakarta yang ke luar kota pasti kenal kopitiam,’’ ujarnya.

Dicky bilang, semakin banyak kopitiam yang muncul justru membantu memperkuat merek itu, meskipun masing-masing kedai memiliki karakteristik menu dan suasana yang berbeda. “Kami punya pengalaman, ketika awal berdiri di Yogyakarta, cukup sulit memperkenalkan kopitiam kepada masyarakat. Sebab, masih banyak masyarakat Yogyakarta yang belum kenal,” jelasnya.

Nah itu tadi mengenai bisnis kopitiam yang bisa anda jadikan referensi dalam berbisnis. Semoga atikel di atas bermanfaat. Selamat mencoba berbisnis.

sumber : www.ciputraentrepreneurship.com

Advertisement
Perhitungan Modal dan Keuntungan Bisnis Kopitiam | khusnul | 4.5